Static Site vs CMS Tradisional: Kapan Harus Pindah?
Setelah pindahin situs ini dari Laravel (CMS custom dengan database) ke Astro (static site), banyak yang nanya: kapan sih sebenarnya worth pindah dari CMS tradisional ke static site?
Berikut pertimbangan yang saya pakai:
Seberapa sering konten berubah? Kalau konten kamu diupdate beberapa kali sehari oleh banyak orang non-teknis, CMS tradisional (dengan admin panel) masih lebih make sense. Static site cocok kalau kamu (atau tim kecil) yang nulis konten dan nggak keberatan commit ke git.
Berapa besar tim editorial-nya? Static site berbasis Markdown+git paling nyaman buat 1-2 orang. Begitu tim editorial-nya lebih dari itu dan butuh workflow approval, CMS (atau headless CMS) jadi lebih efisien.
Seberapa penting minimal maintenance? Ini alasan utama saya pindah. Nggak ada server, nggak ada database, nggak ada patch security buat dijaga. Buat proyek personal dengan waktu maintenance terbatas, ini gede banget dampaknya.
Butuh fitur dinamis kayak apa? Kalau butuh user login, komentar real-time, atau personalisasi konten per user, static site murni nggak cukup — butuh tambahan (serverless functions, third-party service, dst).
Kesimpulannya: static site bukan “lebih baik” secara mutlak dari CMS — ini soal cocok sama constraint kamu. Buat situs personal dengan waktu maintenance terbatas dan konten yang saya tulis sendiri, static site menang telak.