Kembali ke Blog

Flutter vs Native: Kenapa Saya Tetap Pilih Native buat Sebagian Besar Proyek Mobile

#flutter#mobile#native
Flutter vs Native: Kenapa Saya Tetap Pilih Native buat Sebagian Besar Proyek Mobile

Flutter itu bagus, dan saya udah pernah pakai buat beberapa proyek. Tapi buat sebagian besar kerjaan mobile saya sekarang, saya tetap balik ke native — Swift buat iOS, Kotlin buat Android. Ini pertimbangannya.

Akses ke API platform lebih langsung. Fitur-fitur baru dari Apple atau Google biasanya nongol duluan di native SDK, baru belakangan (kalau ada) di-bridge ke Flutter. Kalau proyeknya butuh fitur platform-specific yang niche, saya nggak mau nunggu plugin pihak ketiga yang mungkin nggak ke-maintain.

Performa dan feel yang lebih “kena”. Native widget otomatis ngikutin konvensi platform — animasi, gesture, feedback haptic — tanpa saya harus effort ekstra buat niruin. User biasanya nggak sadar kenapa, tapi mereka bisa “ngerasa” app yang native vs yang nggak.

Debugging lebih transparan. Kalau ada bug aneh, saya debug langsung di layer yang sama dengan platform-nya, tanpa lapisan abstraksi tambahan yang kadang bikin stack trace membingungkan.

Ukuran tim dan skala proyek juga faktor. Kalau saya kerja sendirian dan targetnya cuma satu platform dulu (misalnya iOS aja), nggak ada alasan kuat buat nanggung overhead cross-platform framework.

Flutter tetap masuk akal kalau prioritas utamanya kecepatan rilis ke dua platform sekaligus dengan tim kecil, dan fitur-fiturnya nggak terlalu platform-specific. Tapi kalau saya punya waktu dan proyeknya bakal di-maintain jangka panjang, native masih pilihan default saya.