Kembali ke Blog

Pindah dari Web ke Android Development: Yang Saya Pelajari

#android#mobile#career
Pindah dari Web ke Android Development: Yang Saya Pelajari

Sebelum serius di Android development, saya udah cukup lama kerja di web. Pindah dari mindset web ke mobile ternyata butuh beberapa penyesuaian yang nggak saya duga.

Lifecycle itu nyata dan penting. Di web, “halaman” biasanya hidup dan mati sederhana — load, lalu unload. Di Android, Activity dan Fragment punya lifecycle yang jauh lebih kompleks (onCreate, onStart, onResume, onPause, dst), dan lupa handle salah satu state bisa bikin app crash atau leak memory.

Resource constraint itu nyata. Di web, kamu biasanya nggak terlalu mikirin memory atau battery user. Di mobile, setiap background task, setiap wake lock, punya cost langsung ke battery life user — dan mereka bakal uninstall app kamu kalau boros.

Async itu default, bukan opsional. Network call, disk I/O, semuanya harus async supaya nggak block main thread dan bikin UI freeze. Kotlin Coroutines bikin ini jauh lebih manageable dibanding callback hell.

Testing lebih ribet. Nggak ada “refresh browser” buat lihat perubahan. Build-deploy-test cycle di Android jauh lebih lambat dibanding hot-reload di web (walau makin membaik dengan tools modern).

Yang paling saya syukuri dari pengalaman ini: mindset “resource-aware” dari mobile development ternyata bikin saya nulis kode web yang lebih efisien juga.