Dari Android Freelancer ke Full-Stack: Evolusi Stack Saya
Kalau ditanya “stack utama kamu apa”, jawaban saya berubah cukup jauh dalam beberapa tahun terakhir. Ini ringkasan perjalanannya, dan kenapa saya nggak nyesel pindah-pindah.
Fase Android (2019—2023). Saya mulai sebagai freelancer Android di Koding Works — ngerjain pengembangan aplikasi Android, kolaborasi lintas tim buat fitur baru, perbaikan bug dan performa. Fokusnya sempit tapi dalam: UI native, lifecycle Activity/Fragment, integrasi API REST ke backend yang biasanya udah disediain tim lain.
Merambah full-stack web. Di sela-sela dan setelah itu, saya mulai megang juga sisi backend dan frontend web — React di sisi client, Spring Boot buat backend Java-based, plus eksplorasi Python dan Go buat servis yang lebih ringan. Ini dorongan dari kebutuhan klien freelance yang sering nggak punya tim backend terpisah — kalau saya cuma bisa Android, saya kehilangan proyek yang butuh solusi penuh dari ujung ke ujung.
Fase desktop cross-platform (2023—sekarang). Sejak Juni 2023 saya di Hantechno, ngerjain aplikasi desktop multiplatform buat koneksi VPN, remote desktop, dan security reporting, dibangun pakai Avalonia (C#), Golang, dan Python tergantung kebutuhan modulnya. Ini area yang jarang saya sentuh waktu awal karier, tapi ternyata skill dasar (state management, networking, concurrency) banyak yang transfer dari pengalaman mobile dan web sebelumnya.
Yang saya pelajari dari transisi ini: stack spesifik itu alat, bukan identitas. Fondasi yang beneran penting — problem solving, baca dokumentasi asing dengan cepat, dan disiplin nulis kode yang bisa di-maintain orang lain — itu yang portable lintas platform. Bahasa dan framework tinggal dipelajari pas dibutuhkan.